1. Kedudukan Pemuda
Perlu diketahui bahwa kedudukan pemuda di mata islam sangatlah agung. Allah telah meninggalkan derajat mereka dan menjadikan mereka sebagai fondasi bagi tegaknya suatu umat. Bahkan, wibawa dan kejayaan umat ada di tangan para pemuda.
Sedemikian agung kedudukan mereka sehingga ketika para pemuda itu adalah orang-orang saleh, dapat dipastikan umat tersebut akan dihormati dan disegani. Pemuda, merekalah yang menjadi soko guru, pembawa bendera, dan penjaga kehormatan sebuah umat. Ditangan merekalah agama ini dibela dan dipertahankan. Allah menggambarkan sekelompok kecil pemuda yang berpegang teguh kepada syariat dan konsisten menjalankan agama Allah:
"sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula petunjuk untuk mereka." (Al-Kahfi: 13)
Perhatikanlah sekelompok kecil pemuda ini. Mereka berpegang teguh kepada agama Allah dan mengorbankan apa saja yang mereka miliki, hingga akhirnya mereka bisa menyelamatkan agama mereka. Hingga akhirnya mereka bisa meraih keridhaan Rabbnya. Hingga akhirnya Allah memuji mereka dalam kitab-Nya yang agung, Al-Qur'an, memberi dan menambah hidayah kepada mereka sebagaimana disebutkan pada ayat di atas.
Demikianlah, kedudukan pemuda disisi Allah sangatlah agung. Namun, tentu yang memiliki kedudukan tersebut hanya mereka yang saleh serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya juga berpegang teguh kepada sunah-sunahnya.
Sedemikian agung kedudukan mereka sehingga ketika para pemuda itu adalah orang-orang saleh, dapat dipastikan umat tersebut akan dihormati dan disegani. Pemuda, merekalah yang menjadi soko guru, pembawa bendera, dan penjaga kehormatan sebuah umat. Ditangan merekalah agama ini dibela dan dipertahankan. Allah menggambarkan sekelompok kecil pemuda yang berpegang teguh kepada syariat dan konsisten menjalankan agama Allah:
"sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula petunjuk untuk mereka." (Al-Kahfi: 13)
Perhatikanlah sekelompok kecil pemuda ini. Mereka berpegang teguh kepada agama Allah dan mengorbankan apa saja yang mereka miliki, hingga akhirnya mereka bisa menyelamatkan agama mereka. Hingga akhirnya mereka bisa meraih keridhaan Rabbnya. Hingga akhirnya Allah memuji mereka dalam kitab-Nya yang agung, Al-Qur'an, memberi dan menambah hidayah kepada mereka sebagaimana disebutkan pada ayat di atas.
Demikianlah, kedudukan pemuda disisi Allah sangatlah agung. Namun, tentu yang memiliki kedudukan tersebut hanya mereka yang saleh serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya juga berpegang teguh kepada sunah-sunahnya.
2. Karakteristik Pemuda Muslim
Sebagai sumber ilmu dan rujuan terbaik, al-Qur`an tidak hanya menyebutkan para pemuda tersebut sebagai sebuah kisah yang indah, tapi juga menjelaskan karakteristik sosok pemuda ideal bagi generasi berikutnya. Ia tak cukup untuk dikenang saja tapi nilai yang paling utama adalah meniru perilaku dan akhlak mereka sebagai teladan-teladan terbaik yang pernah ada.Pertama, memiliki syaja’ah (keberanian) dalam menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang bathil (salah) itu bathil (salah). Karakter utama pemuda Muslim adalah siap bertanggung jawab dan menanggung risiko dalam mempertahankan keyakinannya.
Teladan spektakuler telah dicontohkan oleh pemuda Ibrahim pada masa Raja Namrudz, penguasa tirani ketika itu. Dengan gagah berani Ibrahim menghancurkan sekumpulan berhala kecil, lalu menggantung kapaknya ke leher berhala yang paling besar. Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Kisah heroik ini dikisahkan secara bertutur dalam surah Al-Anbiya [21]: 56-70.
Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuda Muslim tak mengenal kata berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, akan menghantarkan ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui.
Firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (Al-Baqarah [2]: 260)
Ketiga, sosok pemuda Muslim selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus. Sikap mereka layaknya pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah dalam surah al-Kahfi. Mereka berkumpul untuk merencanakan sebuah kebaikan dan saling menguatkan di dalamnya. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat atau merencanakan suatu keburukan.
Jadi, para pemuda Muslim berkelompok bukan sekadar untuk huru-hara, kongkow-kongkow yang tidak jelas. Tetapi mereka berkelompok dalam kerangka ta’awun ala al-birri wa at-taqwa, bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Dalam kondisi sekarang, hal ini menjadi suatu hal yang sangat berat. Dekadensi moral yang mendera masyarakat khususnya para pemuda. Belum lagi dominasi budaya Barat yang begitu menggila di tengah masyarakat menjadikan pergaulan islami menjadi sesuatu yang sangat mahal saat ini. Kisah kepribadian Nabi Yusuf sangat layak dijadikan teladan bagi para pemuda.
Kala itu pemuda Yusuf digoda oleh Zulaikha di dalam ruangan tertutup. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan mereka selain mereka berdua saja. Namun dengan akhlak yang terjaga serta pertolongan Allah tentunya, akhirnya sang pemuda tampan itu bisa lolos dari jeratan bujuk rayu Zulaikha yang dibisikkan oleh setan laknatullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]: 22-24).
Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi. Jati diri pemuda Muslim terlihat pada sikap tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan hidup adalah peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa.
Kekurangan materi yang melilit kehidupan sehari-hari, kesusahan hidup yang terus melekat erat tak jarang menjadikan seseorang kehilangan semangat hidup. Alih-alih berpikir positif untuk orang lain, seringkali orang seperti ini hanya bisa berpikir pragmatis saja. Sebaliknya, orang yang punya etos kerja tinggi akan berusaha terus. Meski duka lebih sering menyapa, tapi hal itu tak menyurutkan ghirah hidupnya. Ia tetap memiliki visi yang tajam serta himmah aliyah (tekad yang tinggi).
Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia tumbuh menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya) dari masyarakat. Segala rintangan dan kesulitan hidup hanya menjadi batu loncatan bagi pemuda Muhammad meraih kesuksesan hidup.
3. Potensi Pemuda
1. Memahami Islam
Sebagai pemuda Islam yang berilmu, kita wajib terlebih dahulu memahami Islam untuk memuliakannya[35:28, 58:11]. Yah, mustahil toh kita bisa memuliakan Islam kalau kita sendiri gak kenal dan paham Islam itu seperti apa?
“Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikan dalam agama.” [HR. Bukhari-Muslim]
“Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrullah dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” [HR.At-Tirmizi]
2. Mengimani segenap ajaran Islam
Coba tanya deh pada diri kalian, apakah selama ini kita sudah mengimani setiap ajaran Islam? Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk [23:51]. Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya [2:165] dan ittiba’ (mengikuti) Rasul-Nya [3:31, 53-3-4].
3. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqomah [21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9].
”Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” [HR. Abu Nu’aim].
4. Berjihad di jalan Islam
Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam:
v Jihad lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW [5:62].
v Jihad maali atau jihad dengan harta [49:15; 9:111]. Jihad dengan harta merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.
v Jihad bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan/kekuasaan dan jiwa [22:39, 2:190, 8:39, 9:36]. Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, usaha mempertahankan diri terhadap serangan mereka, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontak atau pembangkang atas negara Islam.
v Jihad siyaasi atau jihad politik.
v Jihad tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam [3:79].
5. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam
Tau gak kalau salah satu ciri orang yang gak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam? [103:1-3; 41:33; 3:110; 9:71; 5:78-79]. Nah kalau gitu ayo kita mulai belajar mengamalkan dan mendakwahkan dari sekarang!
“Barangsiapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” [HR.Muslim]
6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam
Pemuda Islam harus berperan dalam menjalin ukhuwah Islamiyah sesama muslim [8:63, 59:9].
“Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lain saling mengokohkan.” [Al-Hadits]
7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam
Potensi umat Islam juga perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien loh, seperti yang dicantumkan dalam firman Allah [3:146].
8. Optimis terhadap masa depan Islam
Setuju kan kalau pemuda Islam tuh gak boleh berjiwa pesimis? Justru sebaliknya, kita harus selalu optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutin loh, hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis [12:87, 15:56].
9. Introspeksi diri (muhasabah)
Segala aktifitas yang telah kita lakukan perlu dievaluasi dengan cara introspeksi diri. Hal init tuh maksudnya supaya kita gak mengulangi kesalahan yang sama di hari mendatang, gak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik [13:11]. Setuju??
“Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” [HR.At-Tirmizi].
10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam
Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal kita itu bisa diterima dan membuahkan kesuksesan. Makanya kita mesti selalu ikhlas dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam supaya apa yang kita lakukan tuh gak jadi sia-sia dan akhirnya mendapat ridho Allah SWT.
4. Sejarah dan Hikmah pemuda
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka.” [HR. An-Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash]
Kita gak akan kehilangan masa muda kita kok dengan mengamalkan Islam dari sekarang, malah kita bakal punya banyak keuntungan karena potensi sebagai pemuda Islam yang baik bisa dimanfaatkan sebagai ladang amal bagi kita di dunia ini. So, ayo kita mulai mengumpulkan tabungan pahala buat di akhirat kelak dengan menjadi pemuda Islam sejati!!
Rasul Allah saw. bersabda : ”Aku berpesan kepadamu supaya berbuat baik kepada golongan pemuda, sesungguhnya hati mereka paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutusku membawa agama Hanif ini, lalu para pemuda bergabung denganku dan orang-orang tua menentangku” [Riwayat Bukhari].
Duhai pemuda, ketahuilah bahawasanya pemuda dan dakwah itu sangat akrab. Generasi pertama yang menyebarkan dakwah Islam ini adalah dikalangan pemuda. Khalifah yang 4 adalah mereka dikalangan pemuda, sahabat-sahabat Nabi juga mereka yang terdiri daripada golongan pemuda yang gagah dan berani.
Ya Allah, sediakan umat ini dengan para pemuda yang berani dan tegas, tinggi daya juang, pengorbanan dan jihad yang tinggi sebagaimana orang-orang terdahulu dari kami.
Melihat cabaran kehidupan yang semakin menggila, ketempangan akidah semakin membarah, akhlak umat Islam semakin rosak akibat serangan musuh Islam dari hari ke hari tidak pernah henti. Maka, umat ini memerlukan mereka yang jiwanya sangat hampir dengan Tuhan, hatinya sentiasa berpaut kepada cita-cita dan kemenangan Islam, maka pemuda adalah jawapannya. Mengapa pemuda? Sebab pemudalah mempunyai karakter yang disebut oleh as-Syahid al-Imam iaitu iman, ikhlas, semangat dan amal.
“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan persiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, kerana sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemahuan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.” (Risalah Ila Syabab)
Itulah mengapa sejarah Islam diwarnai oleh para pemuda. Zaid bin Thabit pada usianya 13 tahun sudah menyibukkan diri dengan Islam, Zubayr Al-Awwam menjadi pahlawan dan panglima perang ketika usianya sangat muda, Usamah bin Zaid panglima tentera perang ketika berhadapan dengan tentera Rom di Syria ketika usianya 18 tahun, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sanggup menjadikan rumahnya sebagai tempat penyebaran Islam walaupun mengetahui cabaran yang akan mendatang, Mus’ab bin Umair seorang pemuda yang ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pendakwah dan mengislamkan setiap rumah di Madinah, Khalid Al-Walid seorang yang tangkas di medan perang serta mempunyai kemampuan startegi perangnya.
Begitu juga, dengan sejarah sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW dakwah ini diwarnai oleh mereka dikalangan pemuda. Pernahkah kita mendengar kisah pemuda Ashabul Kahfi, pemuda di dalam kisah Ashabul Ukhdud, Zulkarnain, dan sebagainya. Mereka inilah pemuda-pemuda yang mempunyai jiwa yang berani dalam mempertahankan kebenaran dan tidak takut kepada celaan musuh Allah SWT.
Tidak cukup dengan zaman tersebut, dunia Islam pernah dikejutkan dengan para pemuda yang teguh dan thabat dalam jalan dakwah. Sultan Muhammad Al-Fateh pada usianya 21 tahun sudah memimpin bala tentera dan membebaskan Kota Konstantinople, Saifuddin Qutuz pada usianya muda menentang tentera Tatar di Ain Jalut ketika itu umat Islam diambang kejatuhan kerajaan Abbasiah lalu bangkit seorang pemuda mempertahankan umat Islam di Mesir serta Al-Azhar As-Syarif sebagai kiblat ilmu umat Islam, Salahuddin Ayyubi juga pada usianya yang muda menentang Eropah yang ketika itu sudah menawan Jerusalem ditangan tentera Salib sehingga 2/3 dunia ini adalah milik Islam.
Begitu juga, Revolusi Timur Tengah 2011 seperti Tunisia, Mesir, Libya, Syria, Yaman dan lain-lain semuanya tunduk ditangan pemuda.
Ayuh anak-anak muda, sedarilah masa muda ini sangat bermakna. Manfaatkan usia muda untuk Islam serta ummah. Usah kita memisahkan dunia kita dengan dunia mereka yang yang sangat dahagakan kefahaman Islam. Mari kita bina generasi pewaris dikalangan pemuda.
Duhai pemuda, ketahuilah bahawasanya pemuda dan dakwah itu sangat akrab. Generasi pertama yang menyebarkan dakwah Islam ini adalah dikalangan pemuda. Khalifah yang 4 adalah mereka dikalangan pemuda, sahabat-sahabat Nabi juga mereka yang terdiri daripada golongan pemuda yang gagah dan berani.
Ya Allah, sediakan umat ini dengan para pemuda yang berani dan tegas, tinggi daya juang, pengorbanan dan jihad yang tinggi sebagaimana orang-orang terdahulu dari kami.
Melihat cabaran kehidupan yang semakin menggila, ketempangan akidah semakin membarah, akhlak umat Islam semakin rosak akibat serangan musuh Islam dari hari ke hari tidak pernah henti. Maka, umat ini memerlukan mereka yang jiwanya sangat hampir dengan Tuhan, hatinya sentiasa berpaut kepada cita-cita dan kemenangan Islam, maka pemuda adalah jawapannya. Mengapa pemuda? Sebab pemudalah mempunyai karakter yang disebut oleh as-Syahid al-Imam iaitu iman, ikhlas, semangat dan amal.
“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan persiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, kerana sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemahuan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.” (Risalah Ila Syabab)
Itulah mengapa sejarah Islam diwarnai oleh para pemuda. Zaid bin Thabit pada usianya 13 tahun sudah menyibukkan diri dengan Islam, Zubayr Al-Awwam menjadi pahlawan dan panglima perang ketika usianya sangat muda, Usamah bin Zaid panglima tentera perang ketika berhadapan dengan tentera Rom di Syria ketika usianya 18 tahun, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sanggup menjadikan rumahnya sebagai tempat penyebaran Islam walaupun mengetahui cabaran yang akan mendatang, Mus’ab bin Umair seorang pemuda yang ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pendakwah dan mengislamkan setiap rumah di Madinah, Khalid Al-Walid seorang yang tangkas di medan perang serta mempunyai kemampuan startegi perangnya.
Begitu juga, dengan sejarah sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW dakwah ini diwarnai oleh mereka dikalangan pemuda. Pernahkah kita mendengar kisah pemuda Ashabul Kahfi, pemuda di dalam kisah Ashabul Ukhdud, Zulkarnain, dan sebagainya. Mereka inilah pemuda-pemuda yang mempunyai jiwa yang berani dalam mempertahankan kebenaran dan tidak takut kepada celaan musuh Allah SWT.
Tidak cukup dengan zaman tersebut, dunia Islam pernah dikejutkan dengan para pemuda yang teguh dan thabat dalam jalan dakwah. Sultan Muhammad Al-Fateh pada usianya 21 tahun sudah memimpin bala tentera dan membebaskan Kota Konstantinople, Saifuddin Qutuz pada usianya muda menentang tentera Tatar di Ain Jalut ketika itu umat Islam diambang kejatuhan kerajaan Abbasiah lalu bangkit seorang pemuda mempertahankan umat Islam di Mesir serta Al-Azhar As-Syarif sebagai kiblat ilmu umat Islam, Salahuddin Ayyubi juga pada usianya yang muda menentang Eropah yang ketika itu sudah menawan Jerusalem ditangan tentera Salib sehingga 2/3 dunia ini adalah milik Islam.
Begitu juga, Revolusi Timur Tengah 2011 seperti Tunisia, Mesir, Libya, Syria, Yaman dan lain-lain semuanya tunduk ditangan pemuda.
Ayuh anak-anak muda, sedarilah masa muda ini sangat bermakna. Manfaatkan usia muda untuk Islam serta ummah. Usah kita memisahkan dunia kita dengan dunia mereka yang yang sangat dahagakan kefahaman Islam. Mari kita bina generasi pewaris dikalangan pemuda.